Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,307 • USD → IDR Beli: 13,321
  • EUR → IDR Jual: 15,495 • EUR → IDR Beli: 15,515
  • HKD → IDR Jual: 1,704 • HKD → IDR Beli: 1,706
  • JPY → IDR Jual: 119 • JPY → IDR Beli: 119
  • AUD → IDR Jual: 10,531 • AUD → IDR Beli: 10,548
  • SGD → IDR Jual: 9,754 • SGD → IDR Beli: 9,772
  • Emas Jual → 550,000 • Emas Beli → 528,000
  • Perak Jual → 10,300
  • Update Tanggal 22-07-2017
Gadget dan Informasi

Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat

Home / Opini / Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat
Gadget Jadi Alat, Bukan Memperalat Rachmat Kriyantono, PhD

Gadget membuat kita banyak melakukan tindakan komunikasi, tetapi, tindakan komunikasi tersebut belum tentu bermanfaat. Internet yang makin mudah diakses lewat gadget berpotensi mengancam nilai-nilai kebajikan agama. 

Tidak sedikit interaksi melalui media sosial berisi hujatan, caci maki, fitnah, adu domba, menghina, dan olok-mengolok sesama, yang semuanya dilarang agama. Bahkan melalui gadget, orang lebih mudah mengakses kampanye kekerasan, pembullyan, persekusi, dan terorisme. Sifat persaudaraan anak bangsa pun tereduksi dan perbedaan serta permusuhan berpotensi melebar bagaikan jurang yang menganga.

Gadget juga membuat munculnya deteritorialisasi budaya menuju keseragaman budaya, yaitu budaya sudah tidak mungkin lagi dilokalisasi berdasarkan wilayah tertentu. Budaya Amerika tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tapi juga diadopsi oleh masyarakat kita, seperti cara berpakaian (rok mini, banyak gadis yang bercelana pendek keluar rumah), cara berperilaku (seperti seks bebas) atau cara bermusik (musik rock, jazz, reggae, rapp, conutry).

Adler & Rodman (2006) mengatakan: “More communication is not always better... One key to successful communication, then, is to share an adequate amount of information in a skillful manner.” Menggunakan teknologi komunikasi dengan bijak dan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing kita merupakan wujud dari ‘skillful manner’ tersebut. 

Situasi ini mestinya membuat kita berpikir tentang dampak negatif gadget, selain kita akui dampak positifnya. Gadget hanyalah alat, bukan kita yang diperalat olehnya.(*)

* Penulis adalah Rachmat Kriyantono, PhD,  Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi
FISIP Universitas Brawijaya

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com